![]() |
| BLEACHING GIGI |
* ATAS BAWAH RP 250.0000
TUNTUTAN terhadap kesehatan
dan keindahan gigi semakin meningkat. Trend pemutihan tidak hanya
ditujukan pada kulit saja, tetapi juga merambah ke gigi. Banyak manusia
modern merasa giginya terlalu kuning. Sehingga merasa perlu sentuhan
dari bleaching (pemutihan). Berbagai macam cara dilakukan untuk
memperbagus gigi antara lain untuk gigi yang berubah warna. Hanya saja,
nampaknya perkembangan tersebut masih secara parsial. Dalam arti bahwa
hanya faktor estetis saja yang lebih diperhatikan.
Sedangkan faktor-faktor lain yang
berkaitan dengan fungsi gigi itu sendiri jarang menjadi perhatian.
Masyarakat pun kemudian berlomba-lomba memutihkan gigi mereka seperti
layaknya bintang iklan pasta gigi. Namun, yang jarang menjadi perhatian
bagi para konsumen adalah efek samping dari penggunaan bahan pemutih
gigi itu sendiri. Sebetulnya, bagaimanakah efek dari pemutih gigi
terhadap gigi itu sendiri? Apakah setiap diskolorisasi (perubahan warna)
gigi harus diperbaiki dengan bleaching?
Pemutihan atau bleaching pada gigi, pada
dasarnya menggunakan bahan pengoksidasi (oxidizing agents) yaitu
hydrogen peroxide atau carbamide peroxide. Bahan yang berbentuk gel ini
dioleskan pada permukaan gigi geligi dan perlahan-lahan dia akan meresap
ke dalam ’pori-pori’ email gigi yang berbentuk batang-batang kristal.
Dan selanjutnya juga mencapai lapisan dentin yang terletak di bawah
lapisan email.
Sebelumnya, harus diketahui bahwa
warna normal gigi permanen adalah kuning keabu-abuan, putih keabu-abuan,
atau putih kekuning-kuningan. Dengan bertambahnya usia, email dapat
menjadi lebih tipis dan dentin dapat menjadi lebih tebal karena adanya
proses fisiologis yang terjadi di dalam gigi. Oleh karena itu,
gigi orang tua biasanya berwarna lebih kuning atau kebau-abuan atau
abu-abu kekuning-kuningan dari pada gigi orang muda. Adapun faktor-faktor
yang dapat menyebabkan pewarnaan gigi antara lain faktor dari luar.
Misalnya saja noda tembakau pada orang
yang merokok, minuman seperti teh atau kopi, atau bahan tambal gigi
berupa amalgam. Faktor yang kedua adalah faktor-faktor dari dalam
yang dapat menyebabkan diskolorisasi gigi. Antara lain dari penggunaan
antibiotik tetrasiklin, adanya perdarahan di dalam pulpa gigi (proses
nekrosis/kematian gigi), dan gangguan pada saat tumbuh kembang gigi
geligi. Sesuai dengan penyebab dari diskolorisasi gigi, maka teknik
bleaching juga ada dua macam. Yaitu teknik bleaching eksternal dan
internal.
Efek samping dari teknik ini adalah rasa
terbakar pada jaringan lunak dan sensitivitas gigi juga mungkin ada
hubungannya dengan penggunaan bahan-bahan tersebut. Teknik yang kedua
adalah teknik bleaching internal. Pada teknik ini, bahan
pemutih dimasukkan ke dalam kamar pulpa yang sebelumnya telah dirawat
saluran akar. Berdasarkan sejumlah laporan klinis dan pemeriksaan secara
histologis menunjukkan bahwa pemutihan secara internal dapat merangsang
adanya proses resorpsi akar di daerah leher gigi.
Selain itu, teknik bleaching internal
juga dapat menyebabkan peningkatan kerapuhan struktur bagian mahkota
gigi. Setelah mengetahui penyebab diskolorisasi gigi, teknik bleaching,
serta efek samping yang ditimbulkan dari bleaching, maka diharapkan
masyarakat dapat lebih bijaksana lagi dalam mengambil keputusan untuk
memutihkan gigi. Sesungguhnya, gigi yang sehat bukan hanya dilihat
dari putih atau tidaknya gigi tersebut. Tetapi apakah gigi tersebut
dapat berfungsi sebagaimana mestinya atau tidak.
Apa gunanya gigi yang putih
bersinar tetapi mudah berlubang? Hal yang terpenting sekarang adalah
menjaga kebersihan gigi dan mulut seoptimal mungkin. Dan juga kontrol
secara rutin ke dokter gigi untuk mendeteksi secara dini adanya
kelainan-kelainan pada gigi. Perlu diingat, prosedur pemutihan
gigi tidak dijamin manjur untuk semua kasus. Tidak semua perubahan warna
pada gigi dapat diperbaiki dengan prosedur bleaching.
Gigi dengan tetracycline stain
berat mungkin warnanya bisa lebih terang tapi garis khas yang terlihat
di permukaan gigi yang berubah warna akibat antibiotik ini tidak akan
dapat dihilangkan. Gigi dengan fluorosis berat juga tidak dapat
diperbaiki dengan bleaching. Pada keadaan tersebut dokter gigi
seharusnya menjelaskan kepada pasien agar tidak kecewa dengan hasil
perawatan, dan memberi alternatif perawatan lain seperti
pembuatan mahkota tiruan atau dengan restorasi lain seperti labial
veneer. (radar)
....................KIDS ORTHODONTICS........................................


Tidak ada komentar:
Posting Komentar